Sabtu, 02 April 2011

tugas b.ind - cerpen - by terong dan prele


I'm back. haha. Selasa kemarin kelas X-7 diberi tugas untuk membuat cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. akhirnya aku dan prele memutuskan untuk mengangkat pengalaman ajes untuk menjadi konsep cerpen ini.  *bahasaku kok abot ngene rek? -__-* yap. akhirnya jadilah cerpen bergenre horror ini haha. di cerpen ini mengambil setting di lingkungan sekolahku dan kelasku sendiri. yang menjadi tokohnya pun adalah teman-temanku sendiri (aku pakai nama panggilan mereka, bukan nama asli). karea ii pengalaman Ajes, maka the main actor is... JENG JENG JENG! Aziiz Dwi Wicaksono! hohoho.

ini pertama kalinya aku buat cerpen. jadi tolong dimaklumi kalau ada salah kata, atau rada ngebosenin, atau kurang memuaskan, atau apapun. hahaha aku juga belum punya judul buat cerpen ini. kalau ada ide buat judulnya bisa comment. kalau mau memberi kritik saran juga boleh hahaha tapi no bashing ya. sakit hati eke nanti akakaka.

ya sudah baca sajalah, enjoy :))

START!

Selasa, 8 Maret 2011

Bagiku hal yang paling menyenangkan saat bersekolah adalah mendengarkan bunyi bel pulang. Begitu bel pulang dan doa selesai dikumandangkan, semua anak Aset Smala, istilah buat anak-anak kelas X-7, berhamburan keluar kelas dan secara otomatis langsung membuat “likok”. Setelah itu yang biasa kami lakukan adalah curhat satu sama lain tentang kegalauan remaja yang kami alami, ngomongin tugas, sekedar duduk-duduk melihat anak lain main basket, atau pun berbagi pengalaman, seperti yang sedang kami lakukan sekarang.
“Eh, eh, kalian tahu ngga? Kemarin aku merasa ada yang aneh di kelas kita.” kata salah satu temanku pada 7 temanku yang lain dengan lirikan matanya yang penuh misteri. Ke 7 temanku, Ica, Terong, Prele, Riska, Stizie, Prima, Situm, yang awalnya sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri serentak menatap si pencerita alias Tirbil dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Ada apa?”
“Ada apa?”
“Ada apa, Bil?”
Mereka bersahut-sahutan melontarkan pertanyaan yang sama pada Tirbil. Tirbil mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya seakan mengisyaratkan ke 7 temanku yang lain untuk diam sehingga ia dapat memulai ceritanya. Begitu situasi tenang dan terkendali, Tirbil mulai membuka suaranya.
“Iya, kemarin di kelas, bulu kudukku sempat berdiri beberapa kali. Aku merasa ada yang lewat dibelakangku padahal saat aku menoleh tidak ada siapa-siapa disana. Terus aku juga sempet cium bau kembang-kembang kuburan gitu, cuma karena ga mau bikin takut, kemarin aku ga cerita” cerita Tirbil yang langsung disahuti sama si Terong, “Kamu juga cium bau bunga kuburan gitu, Bil? Aku juga. Tapi ga aku pikirin soalnya aku pikir cuma aku yang cium jadi mungkin ada yang salah sama hidungku”
“Loh iya ta Bil, Rong?” tanya Prele dan yang lainnya bersamaan. Tirbil dan Terong mengangguk mantap.
 “Hei, jangan bikin takut dong! Ga bohong kan?” tanya si Situm.
“Enggak! Ngapain aku bohong, Tum?” ujar Tirbil.
Aku dapat merasakan atmosfer di sekitar kami mulai menegang. Buluk kuduk kami berdiri. Beberapa dari kami mengintip-intip ke dalam kelas yang sunyi dan agak gelap lalu segera mengalihkan pandangannya. Semua terdiam. Hening.
“Hei, Ajes! Kok diam aja sih? Ga seperti biasanya! Kenapa? Lagi galau?” tanya Riska memecah keheningan padaku.
“Iya, daritadi diam saja! Kalau ada apa-apa cerita dong!” sahut Ica.
Ehm, sebenarnya aku sedang tak galau masalah cinta, cuma aku tak nyaman dengan topik yang dibicarakan kali ini. Hal ini membuatku teringat akan kejadian hari Sabtu kemarin yang sudah sempat aku lupakan saking banyaknya PR dan tugas dari sekolah tapi tiba-tiba terlintas kembali di otakku begitu Tirbil bercerita demikian. Membuatku kembali merasa takut dan gemetar. Bulu kudukku kembali berdiri.
“Aku ga apa. Sudah ah, cari topik lain saja. Ga enak ngomong serem-serem gini di depan kelas sendiri. Besok kita pada ga mau sekolah lagi.” ucapku pada mereka. Beberapa dari mereka setuju namun si Ica tiba-tiba bertanya, “Jes, kamu juga pernah ngliat “something” gitu ta?”
Aku mengambil nafas sepanjang mungkin yang aku bisa lalu menghembuskannya, “a-aku itu..” Aku terdiam sebentar. Meyakinkan diri untuk menceritakan ini pada mereka. “Iya, Sabtu kemarin aku juga lihat “something” aneh itu di kelas.” Semua Aset yang ada dalam likok itu menatapku dengan mata memburu yang seakan mengisyaratkan “ayo cerita Ajes!”
“Ah, ga jadi cerita deh. Nanti kalian ga mau sekolah lagi.” godaku pada mereka dan detik berikutnya Ica menarik-narik bajuku sambil merengek, Terong memukul kakiku, Tirbil memanyunkan bibirnya, Stezar menarik bulu kakiku, dan Situm menjambak sedikit rambutku menuntut agar aku segera menceritakan apa yang kualami.
“Iya, iya. Diam dulu dong biar aku bisa cerita!” ucapku dan akhirnya mereka semua duduk rapi dalam ketenangan dan mendengarkan ceritaku dengan seksama.
            Menceritakan hal ini seakan membawaku kembali pada saat itu..

* * * * *

Sabtu, 5 Maret 2011
“Ajes!” panggil seseorang. Aku mencari sumber suara dan mendapati Chiki sedang berjalan kearahku.
“Ngapain kamu ng-emo sendirian di pendopo besar gini, Jes?” tanya Chiki
Aku tertawa kecil mendengar istilah “ng-emo” yang dilontarkan Chiki. “Aku lagi ga ng-emo. Lagi istirahat ini. Capek habis main voli dari tadi. Kamu ngapain di sekolah Chik?” tanyaku balik ke Chiki
“Aku habis Joer-V. Anak Aset lain ga ada di sekolah ta?” tanya Chiki lagi.
“Ada si Terong sama Prele. Jarbil juga ada. Upik sama Tatan lagi ngurusi PMR. Prime, Ben lagi di kantin. Bentar lagi juga pada kesini.” jawabku.
“Asik. Ada temannya. Jadi males pulang hehe” ujar Chiki dan langsung duduk di sebelahku sambil menunggu Aset yang lain datang. Kami pun mulai saling bercerita. Masalah sekolah, cinta-cintaan, permasalahan kelas, dll.
“Kantin yok, ceritanya dilanjutin di kantin aja. Aku lapar.” ujar Terong yang disetujui oleh hampir semua member Aset yang ada disini.
Kami berjalan menuju kantin, memesan makanan dan minuman, lalu duduk di bangku yang cukup menampung Aset yang ada. Sambil makan, kami meneruskan cerita kami yang sempat terputus tadi. Kami tertawa bersama karena tingkah Tirbil yang kocak. Kami sedih bersama begitu dengar Ben diputuskan pacarnya. Aset yang lain pun jadi ikutan galau begitu aku cerita mengenai kegalauanku haha.
Ya, karena Aset,  aku sekarang lebih suka berada di sekolah lama-lama bersama mereka daripada harus tidur-tiduran di rumah atau duduk tenang di depan komputer. Seperti saat ini. saking serung bercerita dan mendengarkan cerita, tak terasa waktu sudah menunjukan jam 4 sore.
“Eh, sudah jam 4. Aku pulang duluan ya.” ujar Bidi. Ia harus pulang karena mas Iza, pacarnya, sudah menjemputnya. Berawal dari Bidi, satu-persatu member Aset yang ada tadi berkurang. Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WIB. Langit mulai sore, sekolah mulai gelap, angin mulai menderu, dan awan mulai menghitam membuat Aset yang masih ada harus segera pulang jika ingin tiba di rumah tanpa basah kuyub.
“Jes, ayo sholat baru pulang. Keburu hujan nanti.” ajak masku yang entah sejak kapan sudah ada di belakangku.
“Oke” jawabku tanpa banyak komentar. Aku berjalan bersama kakakku keluar dari area kantin. Dan berniat berjalan terus sampai pendopo. Tapi ada suatu kondisi aneh yang membuatku penasaran. Tumben sekali pintu gerbang koridor kelas X kok belum dikunci? Dan kenapa Cuma kelas X-7 saja yang pintunya ga ditutup?
“Mas, lewat koridor kelas X ae.” Jawabku yang tentu di sanggah masku.
“Ngapain? Aneh-aneh ae ah. Gelap gitu loh! Medeni! Lewat sini saja.” Kata Masku. Emang sih kondisinya sangat menakutkan. Sepi. Gelap.
“Ayo ta mas. Ga apa wah.” Ucapku dan akhirnya masku menurut padaku. aku menelan ludah. Dan memberanikan diri untuk berjalan terus melewati koridor kelas X ini.
Baru ¼ perjalanan, “Jes, lewat depan aja.” Ajak masku lagi. Dia ketakutan ternyata. Akupun juga begitu. Suara jangkrik “Krik, krik” membuat atmosfernya lebih mencekam tapi apa daya rasa penasaran mengalahkan segalanya. “uda tanggung mas, lewat sini saja.” Ujarku dan akhirnya mas menuruti
 Aku berjalan berdampingan dengan masku dalam diam, karena memang sedang tak ada yang perlu dibicarakan walaupun alasan sebenarnya karena kami berdua sedang sama-sama menyembunyikan rasa takut. Gengsi dong. Masa cowok penakut?
Jantungku makin berdebar saat tinggal 5 langkah lagi melewati depan kelasku yang terbuka lebar. Aku menelan ludah untuk menyiapkan batin.
5 langkah
4 langkah
3 langkah
2 langkah
1 langkah lagi
.... tepat ketika melewati depan kelas X-7, aku memberanikan diri untuk mengintip sedikit ke dalam kelas X-7 dan ... aku melihatnya. Ya, aku melihat “something” berada di pojokan sebelah kanan kelasku. “something” yang besar sekali dan memiliki tinggi sekitar 7 meter. Berwarna hitam gelap. Wajahnya tak jelas tergambar namun ia seperti sedang mengenakan kerudung.
Jantungku berdetak sangat kencang. Namun aku tetap berusaha tenang. “Pasti salah lihat. Itu hanya ilusi” batinku berulang kali. Aku sedang mensugesti diriku. 10 langkah setelah melewati depan kelas X-7 jantungku kembali berdetak secara normal.
“Jes” panggil masku
“Apa mas?”
“Kamu.. lihat juga ga?” tanya masku ragu
“Apanya?” tanyaku bingung
“Di pojokan kelasmu. Hitam, tinggi, besar, kayak lagi pakai kerudung” terang masku
Aku menelan ludah. jantungku kembali berdetak kencang. Jadi ternyata tadi bukan ilusi. Itu nyata. Aku kembali menoleh ke belakang melihat kelasku tercinta yang masih terbuka lebar dan sekali lagi aku melihatnya. kali ini ia berdiri di tempat yang berbeda sambil  menatapku dan melambaikan tangan padaku. aku segera mengembalikan kepalaku ke depan dan menggeleng-geleng
“Ngapain kamu. Jes?” tanya masku bingung dan agak ketakutan. Kurasa, dia berpikir aku kerasukan atau apa. Tapi ini aku lakukan untuk melupakan apa yang baru saja kulihat.
“Ga apa mas. Agak pusing. Ayo ndang Sholat ndang muleh” ajakku sambil mempercepat langkahku.
Aku berusaha melupakan kejadian sore itu dan untungnya berhasil karena banyaknya tugas yang harus kupikirkan. Tapi sialnya, aku kembali mengingatnya sekarang.

* * * * *

“Sumpah, Jes?” tanya Ica dengan mata yang membelalak.
“Bener. Ngapain aku bohong?” ujarku
Semua kembali terdiam dengan atmosfer yang masih tegang. Krik. Krik. Krik. Hening.
“Eh, wes ta, jangan dipikiri rek. Besok pada ga mau sekolah lagi” ucapku memecah keheningan.
“Iya, Jes. Oia, Prel, latihan. Sudah jam 4.” Ajak Riska pada Prele. Mereka pun pamit pada kami dan segera berjalan menuju lapangan utara untuk memulai latihan baris-berbaris. Disusul Tirbil, Ica, Situm, Stezar, dan yang terakhir si Terong.
“Jes, pulang yo” tanyanya padaku
“Kok pulang seh? Aku sedirian la’an?” protesku karena aku bosan kalau harus sendirian.
“Aku naik bemo. Kalau kamu mau nganteri baru aku pulang nanti” ujarnya. Mengingat jarak rumah si Terong dan rumahku bagaikan dari ujung ke ujung, lebih baik dia pulang saja haha
“Ya sudah, pulang sana.” Candaku sok mengusirnya
“gitu cara ngomong sama teman? Oke! Fine! Aku berhenti jadi temanmu!” ujar Terong dengan suara tinggi dan mimik yang sangat meyakinkan. Aku pikir dia marah betulan.
“Sorry loh, Rong. Jangan ngamuk ta!” teriakku agar ia yang sudah berjalan jauh mendengar suaraku. Aku dapat melihatnya berbalik dan tersenyum. Aku lupa kalau manusia yang satu itu memang tak pernah marah. Aku tertawa mengingat tingkah teman-temanku yang ajaib-ajaib.
Sendiri. Sepi. Sunyi. Itulah suasana yang kurasakan sekarang setelah teman-temanku pulang. Aku masih harus bersabar 30 menit lagi menunggu masku yang sedang rakor karena hari ini kami Cuma bawa 1 motor. Daripada menunggu sendiri disini, lebih baik aku menunggu mas di pendopo besar saja.
Aku mengambil tasku dengan tenang. Namun saat keluar dari kelas X-7, tiba-tiba bulu kudukku merinding. Atmosfer pun mencekam. Jantungku pun mulai berdetak kencang. Aku menelan ludah dan memberanikan diri untuk melihat kebelakang.
dan ... aku melihatnya. Ya, aku melihat “something” berada di pojokan sebelah kanan kelasku. “something” yang besar sekali dan memiliki tinggi sekitar 7 meter. Berwarna hitam gelap. Wajahnya tak jelas tergambar namun ia seperti sedang mengenakan kerudung. Ia menatapku sambil melambaikan tangannya padaku.
Sama seperti saat itu.

END.
Prele, kalau ada yang kurang nanti kita benahi sama-sama ya. atau kalau kamu mau nambahi juga ga apa. juga, ejaan sama tanda bacanya tolong liatin ya prel kalau ada yang salah. makasi preeeel :DD
semangat yeeee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar